Female Fighters: Kami Bukanlah Sebatas Branding Semata, Kami Juga Memiliki Kemampuan untuk Bermain Game

1807

Seorang gamer wanita saja seringkali masih dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, terlebih jika digabungkan menjadi sebuah tim. Bukan hanya dianggap tidak memiliki skill dalam bermain, namun mereka juga disebut sebagai alat branding saja. Akan tetapi, penilaian tersebut malah menjadi tantangan tersendiri bagi salah satu tim gaming wanita asal Indonesia, Female Fighters untuk menunjukan kemampuan mereka dalam melibas lawan di medan perang.

Rasa penasaran kami terhadap tim yang akan segera berhelat di Grand Final PBLC (Point Blank Ladies Competition) 2016, yang digelar di Surabaya pada 27 Maret mendatang tersebut akhirnya mendorong langkah kaki kami ke markas mereka, di bilangan Kemang, Jakarta (19/3). Walau tak bisa menemui seluruh anggota tim secara utuh, namun Ridha Audrey sebagai Manager Team, bersama Amelia Desiyani (Cosmic) dan Zulfa Hamid Badjeber (Shiny) telah mampu memenuhi rasa ingin tahu kami yang besar terhadap tim yang mengacungkan skill-nya di game ber-genre First Person Shooter (FPS) ini.

Berdasarkan informasi dari Audrey, Female Fighters, yang akrab disebut FF bukanlah tim gaming wanita yang baru. “FF sih udah ada dari tahun 2010. Dulu aku salah satu player di dalamnya. Namun, karena anggota lain telah memiliki kesibukan, contohnya berkeluarga, akhirnya FF sempat off selama beberapa saat,” kata Audrey.

Female Fighters (5)

Rasa ingin bangkit wanita berparas cantik itu di dunia game mendorong dirinya untuk mencari kembali troopers untuk mengisi bangku kosong FF. “Kalau aku akhirnya putusin untuk menjadi manager saja, dan Nabilah Sulthana (Nabsky) yang dulu sempat bermain dengan tim FF lama akhirnya juga kembali. Untuk sisa anggota lain, aku kayak gelar open recruitment gitu, jadi lagi deh Female Fighters,” terang Audrey.

Dalam mencari anggota baru saat itu, Audrey mengaku tak mudah. Pasalnya, banyak pelamar yang terlihat ingin sekedar eksis. “Ya susah waktu itu, banyak yang kayak ingin tenar doang. Aku ga mau FF cuma jadi tim yang branding aja, jadi aku ngeliat dari skill bermain mereka, attitude, keinginan belajar yang kuat, serta kemampuan untuk bekerjasama dengan tim.”

Pada akhirnya, sekitar satu tahun yang lalu, Audrey berhasil menarik 5 anggota baru. Selain Zulfa, Amel dan Nabilah, terdapat pula Gabriella Monica Kashara (Jenofa), Maria Rasandy (Cyrus), dan Rhara Mutiara (Naura) yang mengisi bangku kosong Female Fighters.

Female Fighters (4)

Walau berhalangan hadir, sang kapten tim, Gabriella atau yang akrab dipanggil Gaby tetap tim Gamestation luncurkan banyak pertanyaan melalui sambungan telepon. Pemimpin di FF tersebut mengaku, dirinya sangat beruntung dapat bergabung menjadi anggota dari tim yang tengah nauk daun di kancah kompetisi gaming Tanah Air. “Aku pastinya seneng bisa jadi anggota FF. Walau belum genap satu tahun, tapi kami udah ngikutin banyak kompetisi bareng-bareng, dan naikin nama FF lagi,” tutur Gaby.

Untuk menjadi seorang gamer profesional, rupanya cukup banyak cobaan yang harus mereka lalui, bahkan melebih gamer pro pria. “Ya rintangan diawalnya sih pasti ada, terutama keluarga. Karena kita juga kan cewek, pastinya keluarga lebih ketat kan kalo ama anak cewek. Tapi itu ga lunturin semangat kok, makanya kita teru keukeuh untuk ngikutin dan menangin seluruh kompetisi yang ada,” kata Gaby dengan yakin.

Dikarenakan gender mereka pula, seringkali, mereka tak bisa melakukan latihan di satu tempat yang sama. “Kita susah tuh buat keluar, makanya jarang buat latihan di markas. Untungnya kan yang kita mainin itu game online, jadi kita ketemunya di dunia maya aja. Walaupun begitu, FF tetep solid,” tambahnya.

Female Fighters

Tentangan dari pihak keluarga rupanya dirasakan oleh hampir keseluruhan anggota. Contohnya saja Amel (Cosmic), gadis belia berusia 21 tahun ini yang baru saja pulih dari sakit juga mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. “Mereka nentang, bahkan ampe sekarang hahahahhahah. Tapi, karena hobi serta kecintaan aku dengan tim, aku buktiin sama prestasi, walaupun pas juara orang tua aku biasa-biasa aja,” katanya.

Jika orang tua melarang, lain halnya dengan kekasih. Menurut Zulfa (Shiny), pacarnya yang juga seorang gamer malah mendukung penuh dengan apa yang dilakukannya sekarang. “Kalo pacar malah dukung, dia kan juga gamer. Malah keseringan aku sama pacar aku pacarannya di dunia game. Malah asik, seru,” kata Zulfa dengan semangat.

Hingga saat ini, Female Fighters yang baru ini telah mengikuti sekitar 6 kompetisi. Dan pada salah satunya, mereka berhasil menduduki juara keempat, dengan tim pria yang menjadi lawan mereka. “FF udah ngikutin sekitar 6 kompetisi. Kebanyakan kompetisi itu kami ketemunya ama tim cowok. Tapi ga bikin kami patah semangat kok, malah pernah jadi juara keempat. Malah bangga banget bisa jadi salah satu tim juara, dengan anggota cewe yang ngalahin kebanyakan tim-tim cowok,” jelas Amel.

Female Fighters (3)

Menanggapi perihal kompetisi, Audrey mengaku, saat ini jarang kompetisi game yang digelar khusus bagi tim beranggotakan wanita. Hal tersebut cukup dianggapnya sebagai kendala. “Kita semua taukan, reflect cewek itu kalah sama reflect cowok, terlebih game yang kita mainin itu butuh reflek yang super cepet. Jadi, kalo diadu ama tim cowok, kita akuin cukup kepayahan. Kita berharap banget lebih banyak kompetisi lagi untuk tim gaming cewek, sehingga, pertandingan akan berjalan secara fair. Cause we are not just branding, we also have the ability for gaming,” ucap Audrey.

Hingga saat ini, baru Garena saja yang mengadakan kompetisi khusus tim gaming wanita, melalui PBLC-nya. Dengan begitu, nampaknya harapan Audrey patut diperhatikan oleh publisher maupun penyelenggara rutin kompetisi untuk dikabulkan. Sehingga, E-Sport Indonesia akan semakin berwarna, dengan dihiasi oleh tim-tim gamer “Tulang Rusuk Adam”.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.