Lima Perilaku Menjengkelkan Akibat Pengaruh Teknologi

497

Ibarat uang logam, teknologi pun bermuka dua. Di satu sisi, ia hadir untuk membantu manusia dalam berbagai hal—saling berkomunikasi, misalnya. Sementara di sisi lain, akibat pengaruh teknologi, kadang—secara sadar maupun tidak—ada perilaku kita yang justru mengganggu orang-orang di sekitar. Ya, tidak hanya dalam bersosialisasi, menggunakan teknologi pun ada etikanya.

Ini lima kesalahan paling umum yang bisa dihindari jika Anda tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak tahu etika berteknologi.

Keseringan melirik layar

Kejadian ini bisa, atau pernah, Anda alami: Anda sedang berbincang-bincang dengan seseorang, namun matanya sering kali melirik layar ponsel setiap kali ada notifikasi. Perilaku seperti ini bahkan lebih “parah” ditunjukkan oleh pengguna smartwatch, karena jauh lebih mudah melirik pergelangan tangan ketimbang ponsel yang terletak di atas meja.

Kita memang sudah terbiasa bereaksi apabila ada notifikasi ponsel, namun perilaku tersebut membuat lawan bicara merasa bahwa Anda lebih tertarik pada dunia virtual daripada percakapan yang sedang berlangsung. Lebih buruk lagi untuk pengguna smartwatch, karena keseringan melirik jam tangan membuat Anda terlihat seolah-olah sedang terburu-buru dan ingin segera mengakhiri obrolan.

Memonopoli playlist

Ketika sedang berkumpul bersama teman-teman—di acara pesta, misalnya—orang seperti ini akan mulai berkata, “kamu harus mendengarkan/melihat ini” dan mengambil alih kemudian mengganti playlistyang sudah tersedia. Berbagi musik atau video kesukaan Anda bukan hal buruk, namun jika ini dilakukan sampai pesta usai tentu bisa membuat orang lain—terutama empunya acara—jengkel. Jika tidak ingin dicap sebagai orang yang menyebalkan, Anda harus tahu kapan saatnya berhenti, terutama ketika Anda sedang menghadiri acara pesta orang lain.

Menelepon terus-menerus

Ketika seseorang tidak bisa menjawab panggilan telepon, itu artinya ia sedang berada jauh dari perangkat atau disibukkan dengan hal lain. Namun kondisi tersebut tidak bisa dipahami oleh orang yang tidak tahu etika berteknologi. Ia akan menelepon terus-menerus, dan mungkin sambil berharap sang ponsel bisa merangkak menghampiri pemiliknya.

Kecuali Anda sedang berada dalam keadaan darurat, hal yang paling pantas dilakukan ketika seseorang tidak menjawab panggilan telepon adalah meninggalkan SMS atau pesan instan lalu menyebutkan alasan Anda menelepon.

Menggunakan speakerphone di mana saja

Beberapa orang perlu diingatkan bahwa menggunakan speakerphone bisa mengurangi kemampuan mendengar secara drastis. Namun mereka tidak peduli dan selalu memakai speakerphone setiap kali menelepon, bahkan ketika menghadapi kondisi di mana menggunakan earpiece saja sudah cukup. Etika ini salah satunya berlaku selama melakukan panggilan konferensi, membuat orang lain sulit mendengar, sehingga setiap perkataan harus diulang berkali-kali. Selalu gunakan earpiece setiap kali menelepon; jika tidak ada pilihan lain, baru pakai speakerphone.

Mengirim spam

Menambahkan orang ke grup pesan instan, seperti WhatsApp, tanpa bertanya terlebih dulu adalah sesuatu yang tidak pantas. Apalagi aktivitas grup hanya sekadar berbagi lelucon dan hal-hal tidak penting lainnya. Ada baiknya bertanya dulu kepada orang yang bersangkutan sebelum menjadikan ia sebagai bagian dari grup yang Anda buat. Tidak semua orang bersedia menghabiskan waktu setiap hari dengan membuka dan menutup percakapan hanya untuk mencentang opsi mark as read.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.