Assassin’s Creed Jadi Seri Game yang Menggabungkan Sejarah dan Aksi

Assassin’s Creed adalah salah satu seri paling besar di katalog Ubisoft. Sejak game pertamanya hadir pada 2007, seri ini dikenal sebagai game yang mengajak pemain masuk ke banyak era sejarah, mulai dari Perang Salib, Renaisans Italia, Revolusi Amerika, Mesir kuno, Yunani kuno, era Viking, Baghdad abad ke 9, sampai Jepang pada periode Sengoku. Ubisoft menyebut Assassin’s Creed sebagai salah satu franchise terbesar di industri game, dengan penjualan lebih dari 200 juta game di seluruh dunia saat perayaan 15 tahun seri ini pada 2022.

Daya tarik Assassin’s Creed selalu berada pada campuran antara parkour, stealth, pertarungan jarak dekat, konspirasi rahasia, serta perjalanan ke lokasi bersejarah yang dibuat sangat detail. Pemain tidak hanya masuk ke kota tua sebagai latar visual, tetapi juga bertemu tokoh sejarah, menyusup ke benteng, memanjat menara, dan memburu target dari balik keramaian kota.

Konflik Assassin dan Templar yang Jadi Fondasi Seri

Di balik setiap seri utama, Assassin’s Creed berdiri di atas pertarungan panjang antara Assassin dan Templar. Assassin biasanya digambarkan sebagai kelompok yang memperjuangkan kehendak bebas, sedangkan Templar ingin membangun ketertiban melalui kendali yang lebih ketat. Benturan dua kelompok ini membuat setiap era punya alasan kuat untuk dijelajahi.

Formula utamanya mudah dikenali:

  1. Pemain masuk ke era sejarah tertentu
  2. Tokoh utama terhubung dengan kelompok Assassin atau pendahulunya
  3. Target besar biasanya berada di balik kekuasaan politik atau militer
  4. Parkour menjadi alat untuk bergerak di kota
  5. Hidden Blade menjadi senjata khas
  6. Konflik lama tetap tersambung melalui teknologi Animus

Seri ini bukan hanya soal membunuh target. Ia memberi pemain rasa menjadi pemburu bayangan yang mengamati kota dari atap, memilih jalur masuk, lalu keluar sebelum musuh sempat memahami apa yang terjadi.

Era Awal yang Memperkenalkan Parkour dan Hidden Blade

Assassin’s Creed pertama membawa pemain ke era Perang Salib melalui Altair Ibn La Ahad. Game ini memperkenalkan fondasi yang kemudian menjadi ciri seri, yaitu parkour di kota padat, target assassination, eagle vision, dan struktur misi berbasis investigasi. Pada masanya, kemampuan memanjat hampir semua bangunan terasa sangat segar.

Altair dan Rasa Assassin yang Lebih Kaku tetapi Ikonik

Altair bergerak dengan gaya yang lebih berat dibanding karakter seri modern. Namun justru dari game pertama, identitas Assassin terbentuk jelas. Pemain belajar mengamati target, masuk ke kerumunan, mendengar informasi, lalu mencari waktu yang tepat untuk menyerang.

Bagian paling kuat dari game pertama adalah rasa ritualnya. Setiap target punya proses. Pemain tidak langsung datang membawa kekacauan. Ada pengintaian, pengejaran, penyusupan, dan pelarian. Saat target berhasil tumbang, pemain harus keluar dari area berbahaya sebelum penjaga mengepung.

Elemen yang lahir dari seri awal antara lain:

  1. Hidden Blade sebagai simbol utama Assassin
  2. Viewpoint untuk membuka area peta
  3. Leap of Faith sebagai gerakan ikonik
  4. Kerumunan warga sebagai tempat berlindung
  5. Assassin bureau sebagai pusat informasi
  6. Animus sebagai penghubung masa kini dan masa lampau

Meski kini terasa lebih sederhana, game pertama menjadi pondasi kuat bagi semua perubahan besar setelahnya.

Ezio Auditore Membuat Assassin’s Creed Makin Dicintai

Assassin’s Creed II membawa perubahan besar melalui Ezio Auditore da Firenze. Ia bukan Assassin matang sejak awal. Pemain melihat Ezio tumbuh dari bangsawan muda Florence menjadi pemburu Templar yang jauh lebih terampil. Renaisans Italia memberi panggung kaya warna, mulai dari Florence, Venice, Monteriggioni, sampai Roma dalam seri berikutnya.

Dari Balas Dendam Pribadi ke Persaudaraan Assassin

Ezio menjadi karakter paling dicintai karena perjalanannya panjang. Pemain tidak hanya mengendalikan satu misi singkat, tetapi melihat hidupnya melewati banyak fase. Ia belajar bertarung, memahami politik, membangun sekutu, kehilangan orang dekat, dan akhirnya menjadi figur penting di dalam Brotherhood.

Trilogi Ezio memperkuat banyak sistem yang kemudian melekat pada seri ini. Assassin’s Creed II memperbaiki variasi misi, Brotherhood menambahkan rekrut Assassin, sedangkan Revelations mempertemukan warisan Ezio dan Altair dalam satu jalur cerita.

Bagian yang membuat era Ezio masih dikenang adalah:

  1. Kota Italia yang indah dan padat
  2. Karakter pendukung yang kuat
  3. Leonardo da Vinci sebagai sekutu kreatif
  4. Ekonomi villa dan peningkatan perlengkapan
  5. Brotherhood yang bisa dipanggil saat misi
  6. Musik dan suasana Renaisans yang melekat lama

Era Ezio membuat Assassin’s Creed tidak hanya populer karena gameplay, tetapi juga karena karakter yang benar benar diingat pemain.

Black Flag Membuat Laut Karibia Jadi Arena Assassin

Assassin’s Creed IV Black Flag membawa pemain menjadi Edward Kenway, bajak laut yang hidup di Karibia. Game ini sering dianggap sebagai salah satu entri paling menyenangkan karena menyatukan eksplorasi laut, pertempuran kapal, penyusupan pulau, dan petualangan bajak laut. Ubisoft bahkan menghidupkan kembali game ini lewat Black Flag Resynced, sebuah remake yang disebut hadir dengan visual lebih tajam, gameplay yang ditingkatkan, dan konten baru.

Kapal Jackdaw Mengubah Cara Pemain Menjelajah

Black Flag tidak hanya memberi pemain kota untuk dipanjat. Game ini memberi laut terbuka. Pemain bisa berlayar, menyerang kapal musuh, menyelam mencari harta, memburu target di pulau kecil, dan memperkuat Jackdaw agar siap menghadapi kapal yang lebih besar.

Pertempuran kapal menjadi salah satu ciri paling kuat. Pemain tidak hanya menembakkan meriam, tetapi juga mengatur posisi, membaca arah angin, menabrak kapal musuh, lalu naik ke geladak untuk menuntaskan duel. Sensasi menjadi bajak laut terasa sangat kuat karena dunia tidak berhenti di daratan.

Kekuatan Black Flag antara lain:

  1. Eksplorasi laut yang luas
  2. Kapal yang bisa ditingkatkan
  3. Shanty yang membuat perjalanan lebih hidup
  4. Pulau kecil penuh rahasia
  5. Pertempuran laut yang ramai
  6. Edward Kenway sebagai tokoh yang kasar tetapi menarik

Black Flag memperlihatkan bahwa Assassin’s Creed bisa keluar dari formula kota besar tanpa kehilangan identitas utamanya.

Origins Mengubah Seri ke Arah RPG Open World

Assassin’s Creed Origins menjadi titik perubahan besar. Ubisoft menyebut game ini sebagai awal baru yang berlatar Mesir kuno, membawa sistem pertarungan baru, eksplorasi piramida dan makam, serta kisah asal terbentuknya Brotherhood. Game ini dirilis pada 27 Oktober 2017 untuk PlayStation 4, Xbox One, dan PC.

Bayek dan Mesir Kuno yang Penuh Ruang Jelajah

Origins memperkenalkan Bayek, Medjay dari Siwa yang terlibat dalam konflik besar di Mesir. Karakter ini terasa kuat karena ia bukan sekadar pembunuh bayaran. Ia membawa luka pribadi, tanggung jawab sebagai pelindung, dan hubungan emosional dengan Aya.

Perubahan gameplay terasa jelas. Pertarungan tidak lagi sekadar counter otomatis. Pemain harus menjaga jarak, menghindar, memakai perisai, memilih senjata, dan memperhatikan level musuh. Loot dan gear menjadi bagian utama, sementara dunia dibuat lebih luas dengan gurun, kota, oasis, makam, sungai Nil, dan piramida.

Origins membawa perubahan seperti:

  1. Sistem level dan loot
  2. Combat berbasis hitbox
  3. Dunia Mesir yang sangat luas
  4. Mount dan eksplorasi gurun
  5. Discovery Tour untuk belajar sejarah Mesir
  6. Side quest yang lebih banyak

Origins berhasil membuka jalur baru untuk Assassin’s Creed yang kemudian diteruskan oleh Odyssey dan Valhalla.

Odyssey dan Valhalla Memperbesar Unsur RPG

Assassin’s Creed Odyssey membawa pemain ke Yunani kuno dengan pilihan Alexios atau Kassandra. Game ini memperkuat unsur RPG lewat dialog pilihan, sistem gear, bounty, pertarungan kapal, serta peta besar berisi pulau dan kota Yunani. Seri ini membuat pemain merasa lebih seperti petualang bebas dibanding Assassin klasik.

Valhalla kemudian membawa pemain ke era Viking melalui Eivor. Game ini menaruh fokus pada penyerbuan, pemukiman, aliansi kerajaan, dan pertarungan yang lebih brutal. Ubisoft menempatkan Valhalla sebagai bagian besar dari seri modern yang membawa pemain masuk ke kehidupan Viking, lengkap dengan raid, settlement, dan konflik di Inggris.

Ketika Assassin’s Creed Jadi RPG Raksasa

Odyssey dan Valhalla memperlihatkan sisi paling luas dari Assassin’s Creed. Pemain bisa menghabiskan puluhan sampai ratusan jam untuk menjelajah, menaikkan level, mencari gear, menyelesaikan quest, dan membangun karakter sesuai gaya bermain.

Namun perubahan besar ini juga membagi pendapat pemain. Sebagian menyukai skala besar dan kebebasan RPG. Sebagian lain merindukan stealth, kota padat, dan target assassination yang lebih fokus. Dari sinilah Mirage kemudian hadir sebagai jawaban untuk pemain yang ingin rasa klasik kembali.

Mirage Mengembalikan Rasa Assassin yang Lebih Rapat

Assassin’s Creed Mirage membawa pemain menjadi Basim, pencuri jalanan dari Baghdad yang kemudian bergabung dengan Hidden Ones. Ubisoft menjelaskan Mirage sebagai pengalaman action adventure berbasis cerita yang mengikuti perubahan Basim menjadi Master Assassin, dengan parkour kota, banyak alat, kontrak di Assassin bureau, pencarian petunjuk, serta assassination yang lebih visceral.

Baghdad Dibuat Padat untuk Parkour dan Stealth

Mirage terasa lebih kecil dibanding Odyssey atau Valhalla, tetapi justru itu yang membuatnya lebih fokus. Ubisoft menggambarkan Baghdad sebagai kota padat dan reaktif dengan empat distrik unik, dari Karkh sampai Round City. Pemain kembali merasakan pentingnya atap, gang sempit, kerumunan warga, dan alat stealth.

Mirage juga mendapat update besar Valley of Memory yang menambahkan wilayah AlUla, arc cerita baru untuk Basim, mission replay, parkour lebih halus, serta kustomisasi lebih dalam.

Hal yang membuat Mirage terasa seperti penghormatan ke seri awal adalah:

  1. Kota lebih padat
  2. Stealth kembali menjadi fokus utama
  3. Parkour lebih sering dipakai
  4. Assassin bureau punya peran jelas
  5. Basim tumbuh dari pencuri menjadi Assassin
  6. Alamut kembali menjadi tempat penting

Mirage tidak berusaha menjadi RPG raksasa. Game ini memilih kembali ke akar yang lebih ringkas dan terarah.

Shadows Membawa Dua Gaya Bermain di Jepang Sengoku

Assassin’s Creed Shadows membawa seri ini ke Jepang pada akhir periode Sengoku. Ubisoft menyebut game ini mengikuti kisah Naoe, seorang shinobi Assassin dari Provinsi Iga, dan Yasuke, samurai Afrika yang berasal dari figur sejarah. Game ini tersedia di PlayStation 5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, Ubisoft Plus, Amazon Luna, Mac dengan Apple silicon, serta Windows PC melalui Ubisoft Store, Steam, dan Epic Games Store.

Naoe dan Yasuke Memberi Dua Rasa Bertarung

Naoe dan Yasuke membuat Shadows punya dua arah gameplay yang berbeda. Naoe bergerak seperti shinobi yang mengandalkan stealth, kelincahan, alat, dan serangan cepat. Yasuke tampil sebagai samurai yang lebih kuat dalam pertarungan terbuka, membawa rasa berat dan langsung saat berhadapan dengan musuh.

Perbedaan ini membuat pemain bisa memilih pendekatan sesuai situasi. Ketika markas penuh penjaga, Naoe bisa masuk dari bayangan. Ketika pertarungan tidak bisa dihindari, Yasuke dapat menghadapi musuh dengan kekuatan lebih besar. Latar Jepang juga memberi kesempatan untuk desain kastel, desa, kuil, hutan bambu, dan medan perang yang sangat berbeda dari seri sebelumnya.

Ubisoft juga menghadirkan expansion Claws of Awaji dalam Premium Edition, berisi lebih dari 10 jam petualangan, wilayah baru, cerita baru, lawan baru, perlengkapan legendaris untuk Naoe dan Yasuke, mount legendaris, trinket, serta ornamen hideout.

Parkour dan Stealth Tetap Menjadi Jantung Assassin’s Creed

Meski seri ini sering berubah, parkour dan stealth tetap menjadi identitas utama. Pemain selalu merasa paling dekat dengan Assassin’s Creed saat bergerak di atap, menghindari penjaga, mempelajari jalur patroli, lalu menyerang target dari titik yang tidak terduga.

Hidden Blade Masih Menjadi Simbol Paling Kuat

Hidden Blade bukan senjata paling besar, tetapi paling ikonik. Senjata ini menggambarkan gaya Assassin yang cepat, dekat, dan presisi. Bahkan ketika seri masuk ke wilayah RPG besar, Hidden Blade tetap menjadi simbol hubungan pemain dengan Brotherhood.

Elemen stealth yang sering melekat pada seri ini adalah:

  1. Menandai target dari ketinggian
  2. Menyusup lewat atap atau semak
  3. Memakai kerumunan untuk bersembunyi
  4. Mengalihkan perhatian penjaga
  5. Menghabisi target tanpa alarm
  6. Kabur memakai parkour setelah misi selesai

Pada seri terbaiknya, Assassin’s Creed membuat pemain merasa seperti hantu kota. Mereka datang dari atas, menyerang sebentar, lalu menghilang sebelum kekacauan menyebar.

Discovery Tour Membuat Dunia Game Jadi Ruang Belajar Sejarah

Salah satu fitur menarik dari era modern Assassin’s Creed adalah Discovery Tour. Ubisoft menjelaskan Discovery Tour pada Origins sebagai mode edukatif yang memungkinkan pemain menjelajahi Mesir kuno melalui tur terpandu yang dikurasi sejarawan dan ahli Mesir, menjadikan dunia game seperti museum virtual.

Saat Game Dipakai untuk Mengenal Peradaban Lama

Discovery Tour memperlihatkan kekuatan lain Assassin’s Creed. Detail kota, pakaian, bangunan, benda sehari hari, dan struktur sosial tidak hanya dipakai untuk aksi. Semuanya bisa menjadi bahan belajar. Mode ini menghapus tekanan combat dan memberi ruang bagi pemain untuk menjelajahi tempat bersejarah dengan tempo lebih santai.

Fitur seperti ini membuat Assassin’s Creed berbeda dari banyak game open world lain. Seri ini punya ambisi menghadirkan dunia lama dengan rasa visual kuat, lalu memberi pemain alasan untuk memperhatikan lebih banyak hal selain misi utama.

Assassin’s Creed Masuk ke 2026 dengan Banyak Arah Baru

Pada 2026, Ubisoft menampilkan Assassin’s Creed sebagai brand yang masih aktif melalui beberapa proyek. Halaman resmi franchise menyorot Black Flag Resynced yang sudah tersedia, sekaligus artikel Assassin’s Creed Into 2026 yang membahas rencana brand dalam beberapa bulan berikutnya.

Hexe, Invictus, dan Arah yang Lebih Beragam

Dalam artikel Into 2026, Ubisoft menyebut proyek Hexe sebagai pengalaman Assassin’s Creed yang lebih gelap dan berbasis cerita, berlatar momen penting dalam sejarah. Ubisoft juga menjelaskan Invictus sebagai pengalaman PvP multiplayer Assassin’s Creed yang digarap tim veteran For Honor di Ubisoft Montreal.

Rencana ini memperlihatkan bahwa Assassin’s Creed tidak hanya bergerak dalam satu format. Ada game besar open world, remake, pengalaman stealth lebih kecil, serta proyek multiplayer. Bagi pemain lama, hal ini memberi banyak pilihan. Bagi pemain baru, seri ini punya beberapa pintu masuk sesuai selera.

Kenapa Assassin’s Creed Tetap Kuat di Dunia Game

Assassin’s Creed tetap bertahan karena punya identitas yang mudah dikenali, tetapi cukup lentur untuk berubah. Seri ini bisa menjadi game stealth kota, RPG dunia terbuka, petualangan bajak laut, kisah Viking, perjalanan shinobi, atau pengalaman edukatif lewat Discovery Tour. Tidak banyak franchise yang bisa berpindah era sejauh itu tanpa kehilangan simbol utamanya.

Banyak Pintu Masuk untuk Pemain Baru

Pemain baru tidak harus mulai dari game pertama. Pilihan bisa disesuaikan dengan selera:

  1. Ingin rasa klasik, pilih Assassin’s Creed II atau Mirage
  2. Ingin Mesir kuno dengan sistem RPG, pilih Origins
  3. Ingin Yunani luas, pilih Odyssey
  4. Ingin Viking dan pemukiman, pilih Valhalla
  5. Ingin bajak laut, pilih Black Flag atau Black Flag Resynced
  6. Ingin Jepang Sengoku, pilih Shadows

Assassin’s Creed menjadi seri yang terus hidup karena selalu menggabungkan dua hal yang disukai gamer: fantasi menjadi pembunuh bayangan dan rasa menjelajahi era sejarah besar. Saat pemain berdiri di puncak menara, melihat kota terbentang luas, lalu melompat ke tumpukan jerami sebelum memburu target berikutnya, seri ini kembali menunjukkan alasan mengapa logo Assassin masih sangat mudah dikenali di dunia game.

Leave a comment

ThemeREX © 2026. All rights reserved.

Platform

Additional Links

Follow Us